Minggu, 22 April 2012

Tuhan Maha Adil (Fulbright Chapter 1)

Tuhan itu Maha Adil sobat...
dan memang benar apa kata Arai di film Sang Pemimpi:
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.”
Andrea Hirata, Sang Pemimpi


Bandung, April 2010  
Tiga bulan sebelum kelulusan S1-ku di De Techniche Hoogeschool te Bandung muncul keinginanku untuk menginjakkan kakiku ke negara adidaya, Amerika Serikat. Keinginan itu bermula dari rasa penasaran yang sangat besar untuk melihat sehebat dan sebesar apa negara yang menjadi pusat dunia. Mimpi itupun mulai kutulis dan kutanam dalam diri. Aku yakin, somehow, pasti akan berada disana. Satu janji yang terucap, "Aku ingin berfoto dengan Patung Liberty sebagai backgroundnya.

Bandung, Juli 2010 
Hari ini adalah hari kemenanganku. Setelah bertahun-tahun berjuang di kampus gajah ini, akhirnya pengabdian diripun berakhir. Sesaat, rasa khawatir tiba-tiba menghampiri di tengah kelap-kelip jepretan kamera para wisudawan. Khawatir akan kerja, kuliah, keluarga, jodoh, dan keseluruhan masa depan seolah-olah datang menghapus mimpi yang kutanam 3 bulan lalu. Tapi, kutepis saja rasa khawatir itu dan kuganti dengan senda gurau bersama keluarga dan teman-teman.

Palu, Juli 2010 

"Pa, Ella mau S2 di luar negeri, boleh??"
"Boleh-boleh saja, pasti didukung. Tapi nilai TOEFL-mu itu so cukup kah??"
"Belum sih pa, so itu masih mo ba cari2 tempat kursus dulu"
"Iyo, terserah Ella. Asal jangan dulu mo ba bilang2 sekolah ke luar negeri tapi TOEFL saja belum punya. Persiapkan dulu samua, rencanakan dengan matang. Papa selalu doakan Ella sukses."
"hmmm...*_*"

Yup sobat, itulah percakapanku dengan ayah di teras rumahku di Palu sepulangku dari Bandung. Kata-kata papa yang sederhana itu membuatku tersadar, "Aku belum punya TOEFL!!!". Walaupun bahasa inggris sudah kupelajari sejak SD, kudalami dan kupraktekkan di pesantren, kulatih di SMA, tapi tetap saja aku masih tak mampu mengalahkan si TOEFL. Terbukti dengan hasil tes bahasa inggris di kampus dulu yang menempatkanku di kelas reading, kelas terendah dalam pelajaran bahasa inggris.

Akupun tidak mau dikalahkan oleh si TOEFL, maka akupun mulai mencari tempat kursus bahasa inggris yang berkualitas tapi  masih affordable buat kantongku. Akan tetapi godaan dari luar muncul menghinggapi pikiranku hari itu. Salah seorang sobat karibku memberi tahu kalau tahun ini bakal ada penerimaan PNS di kementerian secara besar-besaran. Dia mengajakku. Mimpi ke negeri Obama pun mulai kabur dari pikiran, terusik dengan kekhawatiran dan keinginan untuk mandiri.

Akan tetapi, akupun memutuskan untuk sholat istikharah. Memilih antara kerja dan menyiapkan beasiswa S2. Saat itu yang tertanam di benakku adalah aku harus memilih karena aku hanya bisa fokus pada satu pekerjaan saja karena kelemahanku masih terlalu besar untuk ditutupi dengan sedikit waktu. Tuhan tidak segera menjawab pertanyaan itu kawan. Mimpi yang katanya akan selalu muncul pun tak kunjung datang. Akupun mulai ragu, mungkin Tuhan tidak mendengar doaku.


Bandung, Agustus 2010 
Akupun memutuskan untuk kembali ke Bandung. Alasanku adalah aku ingin melihat apakah masih ada jalan keluar yang menantiku di luar sana. Sholat istikharahpun kuulangi lagi. Dan kini Tuhan menjawab tapi bukan lewat mimpi sobat, tapi lewat tanda-tanda yang kuyakini adalah cara istimewanya untuk menunjukkan jalan yang terbaik buatku. Begini ceritanya:

Sore itu aku ke warnet untuk mencari info mengenai tempat kursus bahasa inggris yang berkualitas dan murah. Singkatnya, terdamparlah aku ke sebuah website tentang "Kampung Inggris". Blog itu sangat informatif dan dia menceritakan bahwa tempat itu sangat direkomendasi bagi para pelajar yang ingin belajar dengan kualitas yang baik dan murah. Kulihat lokasi kampung inggris itu, dan Yup, "Haa... di Pare, Kediri?? Jatim??". Yah, tempat itu terletak di provinsi paling timur pulau jawa. Info mengenai kampung inggris kugali lebih dalam lagi, dan AKUPUN SIAP UNTUK BERANGKAT!!!.

Bandung, Februari - Maret 2011
Setelah hampir 3,5 bulan belajar bahasa inggris di kampus itu, mulai dari Basic 1,2, translation, writing, speaking, hingga TOEFL, akupun  siap menghadapi musuh lama. Kali itu kesempatanku hanya 2 kali untuk ikut tes ini. Syarat: TOEFL ITP ku harus minimal 550. Tes pertama kulalui dengan nilai pas 550. Bersyukur pasti, akan tetapi aku masih tidak pede untuk melawan ribuan pejuang beasiswa Fulbright lainnya dengan nilai segitu. Kuambil tes kedua kalinya dan berharap aku tidak ketinggalan deadline beasiswa ini. Dan Alhamdulillah nilai TOEFL-ku yang kedua naik dan kurasa cukup untuk bersaing. Fulbright, Here I come!

Bandung, April 2011

Jika dibandingkan dengan para pesaing lainnya, mungkin nilaiku baik akademik dan TOEFL tidak terlalu outstanding. Jadi, hanya tinggal satu lagi kesempatanku untuk meraih perhatian tim Aminef. Yup, Study Objective. Akupun mulai menggali berbagai info mengenai persyaratan ini. Dan akupun berhasil menemukan website salah seorang alumni Fulbright yang akhirnya sangat membantuku dalam memberikan tips dan trik dalam menulis study objective. Sekali lagi, makasih Mbak Dewi... Selain itu, aku meminta tolong kepada teman-temanku Ari dan Prita untuk memeriksa kesalahan grammar dan segimana "menariknya" ceritaku bagi mereka. A bunch of thanks for you guys...

Tepat sehari sebelum 15 April 2012, berkas beasiswa mulai kususun menjadi satu. Berkas itu tidak kukirimkan tapi kuantarkan langsung ke Jakarta ke kantor Aminef. Begitu tiba di kantor, Aku kaget melihat sebuah kotak besar yang berisikan berkas-berkas beasiswa lainnya. Ternyata, berkas kita tidak diberikan ke staf Aminef langsung, tapi kita tinggal memasukkan saja ke dalam kotak itu. Kukuatkan hati, kuucapkan Basmallah, dan kupasrahkan pada Allah sambil berdoa,
"Ya Allah, telah kuberikan usaha paling maksimum yang bisa kulakukan selama setahun ini untuk mempersiapkan berkas ini. Jika Kau mengizinkanku menapakkan kaki ke sana, maka permudahkanlah jalanku. Jika tidak, maka lapangkanlah dadaku. La haula walaa kuwwata illaa billah."

Berkas telah masuk ke dalam kotak, dan kulangkahkan  kaki ke luar. Aku hanya ingin pulang...

*bersambung



Tidak ada komentar:

Posting Komentar